Dear you..
My unblood sister...
Let me write our memories here.
Firstly we met in a same program. A lady who wore a white blouse and simple skirt raised her hand. Her face could not hide her curiosity on something and with confidence asking about the program. Since the time you spoke, I knew, she is a smart and confident girl. It was my first impression. Then, there was a plotting time, those girl was in a same group like me and unpredictably, by the time pass, we spent our time together and it was like a "click" sound between us. I commit to call you my dearest sister from another sister.
A beautiful smart-ass lady, confident, multi-talented and an obedient muslim (that's what I adore about you the most), you shared your bittersweet stories. People was trying to make you down, you stand still, and keep 'ikhlas' while also proliferating yourself to be a better lady. Once an unskilled chef and now have a pudding business (lol), from a lady who did not know how to applying make up and now a master. A lifetime learner and also a teacher to her students mirroring her capabilities.
Saturday, 30 December 2017
Tuesday, 17 October 2017
Bingung
Bingung. Mungkin caption tersebut tepat menggambarkan perasaan ataupun pikiran yang berbenak dalam perasaan dan otak saya. Yang mana yang tepat untuk menggambarkan bingung, apakah perasaan terlebih dahulu yang menggambarkan situasi tersebut atau apakah otak dulu yang memunculkannya? Ujung-ujung bingung sendiri.
Well, sebenarnya disini saya bingung melihat sikap orang-orang di sekitar saya. Sebelum memulai intisari dari kebingungan saya, saya memulai tulisan ini dari pandangan kritis. Dalam proses pembelajaran yang saya lakukan, pemikiran kritis muncul karena adanya pertentangan yang dirasakan atas status quo atau kejadian yang biasa terjadi. Karena adanya kesadaran sosial ini, muncullah gerakan-gerakan untuk mengubah kebiasaan yang sudah mengakar ini.
Saya ingin mengangkat sebuah kesadaran di lingkungan sekitar saya. Cukup sederhana, tapi cukup menggambarkan pertentangan atas kondisi tersebut dan saya disini ingin menggumamkan sebuah kesadaran. Jadi, menurut saya, bukan maksudnya menjatuhkan, mendiskriminasi atau apapun itu,
Thursday, 7 September 2017
Belajar Gagal
BELAJAR GAGAL
Gagal adalah suatu situasi dimana
kita tidak mendapatkan apa yang ingin kita capai, itu definisi kata gagal versi
gue. Kata “gagal” sendiri sepertinya momok yang sangat menakutkan bagi semua
orang. Siapa sih yang ingin gagal? Gagal dalam cita-cita, gagal dalam percintaan,
gagal dalam persahabatan dan maaaasiiihh banyak kegagalan lainnya yang
menghantui setiap jalan kehidupan kita kedepannya.
Well, kegagalan sendiri tentunya
pernah gue rasakan. Jangan Tanya berapa kali. Jawabannya Banyaaaakkk! Gimana
sih rasanya gagal? Well, pasti sakiiiittt yaaahh reeekkk (sambal elus-elus dada
:’)) Apalagi untuk seseorang yang selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan
#tsaaahh gayaneeee, dan kadang juga tanpa perlu berusaha keras (perlu ditampok
keknya), ketika gagal untuk yang pertama kalinya pasti nyesek banget! Serasa
dihantam palu nih dada (hyperbola tapi benar adanya). Kalau kata Maudy sih “Rasanya
tak ingin, bernafas lagii~ Well Ness, lu mulai alay bin lagi galau ya sampe
nulis kayak beginian? Iya sih, galau. Rasane sakno ambek awak dewe. Wkwkwk.
Tapi paling cuman hari ini, detik ini kok. Abis ini juga udah kembali
berambisi. Hahaha. Tapi tujuan paling penting gue nulis bait ini adalah untuk
kembali merefleksikan diri, apa sih kegagalan yang paling sering ‘kita’ lakukan?
Kenapa sebenarnya Tuhan memberikan kegagalan pada kita?
Jujur saja, kegagalan
terbanyak yang gue alami sendiri adalah menyangkut beasiswa dan pekerjaan. Intinya,
semua tes seleksi besar-besaran untuk memperebutkan hal-hal prestigious, saya
merasa pasti akan gagal. Kalau dihitung-hitung sepertinya sudah berkali-kali
yaah. Dimulai saat SMA, seleksi salah satu program dari bank yang lumayan prestisius di tahap wawancara paling akhir. Saat masih kuliah juga, gagal Beswan Djarum yang sebelumnya
pernah saya ulas di blog ini 2014 silam. Apalagi yaa? Mikir saking banyaknya. Hahaha. Seleksi masuk kerja
juga misalnya seleksi BI, seleksi Pertamina dll masih banyak lagi. Terakhir ini saya
gagal mendapatkan salah satu beasiswa. Kadang parno sendiri kalau mau ikut tes lagi, langsung ciut. Malu gak sih ceritain kegagalan? Well,
gak lah! Karena toh semua dari kita pernah gagal. Jangan malu sama kegagalan.
Belajar gagal, lama-lama biasa. Trust me!
Of course, Dari banyaknya
kegagalan tersebut, tetap saja ada rasa kecewa yang terasa, meskipun kadar
kekecewaannya untuk saat ini sekedar “jleb” dan timbullah rasa penasaran untuk
kembali mencoba (jiks masih berkesempatan). Belajar untuk gagal dan terbiasa itu penting, tapi yang harus dicatat itu gimana biar kita gak terpuruk dan masih mau mencoba kesempatan-kesempatan lainnya. Gimana bisa memotivasi diri sendiri agar kedepannya, kita lebih bisa
mempersiapkan diri untuk menghadapi hal-hal selanjutnya. Bait nyanyian Sheila
on 7 “kau harus bisa.. bisaa.. berlapang dada.. kau harus bisa.. bisaa.. ambil
hikmahnya..”.
Refleksi Diri:
Mungkin salah satu
kesalahan terbesar saya adalah terlalu menggampangkan segala urusan beasiswa. Dan kebanyakan, kegagalan saya tersebut berada saat wawancara. Why? Maybe
keliatannya ketika wawancara saya sering nervous atau over confident sehingga
you might see me as a cocky kinda girl? I do not know. Yang jelas, saya harus belajar mengontrol semua pressure yang ada saat di lapangan. Belajar nulis essay yang baik dan benar juga biar gak plagiasi, dll. Belajar untuk gagal
itu baik selama kita bisa bangkit kembali. Sebenarnya rasa yang gue rasain itu sendiri yaitu rasa about how to deal with the failure. By the time, you'll get use to it and it's not as pain as previous.
Apa mungkin Tuhan sengaja
memberikan kita banyak kegagalan untuk menguji keimanan kita? Sesuai salah satu
surat dalam Al-Quran mengatakan bahwa “Boleh jadi apa yang saya anggap baik
ternyata amat buruk bagimu dan begitupun sebaliknya. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui sedangkan kamu tidak!”. Positive thinking sambal kembali berkaca
pada kegagalan.
Pada kesempatan kali ini, saya
ingin menyatakan CONGRATULATION TO MY ALAY PARTNER semasa coolyeah, yang
sama-sama jadi beasiswa hunter dan akhirnya kali ini buah kegagalan terbayar
sudah Lay! I am so happy for you!! :* Well, diinget lagi yaa Ness catatan about
results will never betray its process. Moga next time gue lulus yaaahh. Hehehe :D
Last but not least, I will always
try ‘cause I’m born to not giving up on my dreams. Bismillahirrahmanirrahiim.
May Allah always be with me and you, my dearest readers, in our next trial and
battle.
Salam perjuangan,
Ness...
Wednesday, 30 August 2017
Malang: Loe Mien Toe Cafe
Thursday Morning around 10am.
I visited this place for the first time since my entire life, even when I used to live in Malang. Well, this cafe is quite famous because of the concept they serve. I've known this place from websites and some instagram posts. Well, I have to say that Loe Mien Toe is a very cozy to especially for spending your time!
Friday, 18 August 2017
Cita-cita 72 Tahun Indonesia Merdeka!
Yang pertama, saya sebagai warga negara ingin kembali mengucapkan Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 72.
Tepatnya 17 Agustus 1945, hari di mana Indonesia bebas, merdeka dari penjajahan. Negara dan rakyatnya telah tidak terkungkung dari jeratan kesengsaraan. Secara kasat mata memang hal itulah yang terjadi, namun masih banyak problematika yang terjadi setelah 72 tahun Indonesia merdeka. Kompleksitas permasalahan dari berbagai segi baik politik, sosial, ekonomi dan lainnya masih menggaung memekakkan telinga masyarakatnya, meneriakkan rintihan meminta pertolongan bagi masyarakatnya.
Monday, 7 August 2017
Fate #2
In the middle of the phone in July...
Another story is revealed. There is girl who tried very hard to reach her goal. She conveyed the whole process and her ambition to reach . Even though many processes did not go according to her plans but she was still eager to follow a series of other processes. One door close, there are still many other doors to be opened, that's what she believed. Her first priority is to win a scholarship to school abroad.
Fate #1
Weekend in the middle of July.
I called my best friend whom I already consider as my big sister. As usual, we talked a lot about everything as we usually did. Well, I have to admit that generally, our conversations were led to FATE. I was so happy to hear her fruitful news, about someone proposed her. Well, she had been doing ta'aruf as Muslim's law while doing a relationship. After lots of life trials she went through, finally it comes to a sweet ending. It is Fate. Destiny. Or whatever you call it to describe something that belongs to you. About this first version of fate, let me tell you the whole story. A bittersweet love story of my friend...
Subscribe to:
Posts (Atom)